Prediksi Ahli Perhotelan: Tren Berwisata Akan Lebih Mewah

Prediksi Ahli Perhotelan: Tren Berwisata Akan Lebih Mewah

Pelatihan Perhotelan – Pandemi virus corona (Covid-19) bila nanti berakhir, akan mengubah tren berwisata. Ahli perhotelan memprediksi, para pelancong akan melakukan perjalanan yang mewah.

Menurut para ahli itu, terdapat kecenderungan pelancong berpikir untuk bepergian demi kebutuhan bersantai yang berbeda. Kebiasaan membatasi jarak fisik, kelak menciptakan tren baru dalam berwisata pada masa mendatang.

“Pelanggan (tamu hotel) akan ditanyai (pegawai) bagaimana mereka ingin dijaga,” kata James Lohan, selaku pendiri dan kepala kreatif Mr and Mrs Smith, spesialis hotel butik, sebagaimana dikutip dari Insider, belum lama ini.

Lohan menyampaikan itu dalam seminar daring bertema ‘The Traveler in 2020 and Beyond’. Sesi percakapan itu dipandu Black Tomato, perusahaan penyedia jasa perjalanan mewah. Lohan memprediksi, bahwa akan ada lebih banyak pilihan pengalaman untuk menginap di hotel.

“Apakah tamu ingin dibawakan tasnya? Atau, lebih suka tidak memiliki kontak dengan staf?” ujarnya.

Beberapa pertanyaan semacam itu, kata dia, akan menjadi pola baru, termasuk merapikan tempat tidur hotel “Apakah Anda ingin merapikan tempat tidur setiap malam atau tidak? Apakah ingin kamar dirapikan setiap hari atau tidak?”

Ihwal waktu makan siang dan malam, Lohan memperkirakan akan lebih lama. Menurut dia, hal tersebut akan memungkinkan lebih sedikit orang di restoran. Bahkan, ia menduga akan ada kecenderungan para tamu akan bersantap di bagian lain hotel. “Hal yang sebelumnya mungkin tidak pernah mereka lakukan,” katanya.

Bila bersantap di restoran hotel pun, mungkin tak lagi tersedia buku menu. Kegiatan di hotel akan sangat sedikut kontak tatap muka dengan pegawai.

“Semua akan dilakukan dari jarak jauh. Anda akan diberi iPad untuk melakukan semua pemesanan (makanan atau minuman),” ucapnya. Bahkan, kata dia, mungkin saja mixologist akan datang langsung ke kamar menyiapkan koktail.

Menurut Lohan, hotel perkotaan akan menghadapi tantangan terbesar untuk memikat tamu. Ia mencontohkan, salah satu tantangannya adalah perjalanan bisnis. Sebab perusahaan telah menyadari keuntungan cara berkomunikasi melalui virtual. Hal itu menghemat banyak uang yang sebelumnya digunakan untuk penerbangan dan hotel.

“Jika hotel perkotaan sangat bergantung pelancong bisnis, maka harus mulai memikirkan kembali,” katanya. Sebab itu, menurut dia, tempat wisata di perkotaan mungkin nanti akan kurang populer. Para pelancong mencari area yang lebih tenang.

“Itu harus dilakukan dengan cara yang berbeda sekarang. Hotel perkotaan harus memanfaatkan sisi seni dan budaya dan waktu luang yang lebih maju,” ujarnya.

 

Meski ke depan, berbagai kemungkinan membuat orang jarang bepergian. Tetapi, sekali berwisata akan mengeluarkan sangat banyak biaya, “Pengalaman akan menjadi lebih pribadi, karena tidak akan berada dalam kelompok sama sekali,” kata Lohan.

Ia menambahkan, lingkungan perkotaan bisa saja semakin tidak diminati karena faktor keramaian. Hal itu membuka peluang minat baru pelancong menuju suasana pedesaan. Sebab itu, Lohan memprediksi, pada masa mendatang, penyewaan rumah pribadi atau properti terpencil bisa menjadi lebih populer.

Suasana kamar di Hotel Mulia. Dok. Hotel Mulia

Dalam keterangan yang lain, mengutip Traveller, perusahaan kapal pesiar memandang perubahan drastis untuk mengembangkan perjalanan wisata. Pimpinan Eksekutif (CEO) Royal Caribbean Cruises Richard D. Fain menganggap setelah pandemi berakhir, harus ada cara lain pemulihan perjalanan dalam tren berwisata yang baru.

“Perjalanan dan pariwisata akan tumbuh, bukan dengan kembali ke apa sebelumnya. Tetapi menyesuaikan diri dengan dunia, di mana semua kegiatan yang kita lakukan di dunia akan berubah,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


six − = 2