Persaingan Bisnis Hotel Makin Sengit, Pemain Harus Cepat Beradaptasi dan Bergerak

Pelatihanperhotelan – Bisnis perhotelan di Indonesia kini semakin menggeliat seiring dengan upaya pemerintah menggenjot sektor pariwisata di berbagai daerah.

Banyak ide dan peluang bisnis baru yang bisa diambil atau dikembangkan, termasuk meniru ide bisnis yang telah dijalankan oleh perusahaan lain.

“Dulu kita masih mengalami lawan yang jelas, supply demand-nya tunggal, pola kerja dan bisnis yang masih linier. Sedangkan di ‘dunia baru’ (era leisure economy) tempat kita beraktivitas saat ini, justru lawan-lawan kita tidak terlihat,” kata CEO Azana Hotels & Resorts Dicky Sumarsono, Rabu (21/8/2019).

Dicky menjelaskan, bisnis hospitality yang mengedepankan pelayanan dan keramahtamahan kini menjadi arus utama.

Dicky menjelaskan, strategi bisnis hotel yang diperlukan di era leisure adalah memasukkan elemen pengalaman, menciptakan momen ‘wow experience dan menciptakan kegembiraan dan makna bagi tamu yang datang.

Selain itu, juga harus mampu menciptakan diferensiasi dengan produk dan layanan yang memiliki unsur orisinalitas dan otentisitas. “Berikan panggung pada konsumen, dan ciptakan cerita yang otentik,” ujarnya.

Untuk merealisasikan strategi tersebut, kata dia, harus ada korelasi dengan sisi pemasaran. Sebab, konsumen baru semakin berdaya dengan tren digital seperti sekarang.

Dicky menekankan, semakin cepat hotel bergerak, semakin mudah untuk mengubah tantangan bisnis menjadi kesempatan berbisnis yang baru. Pelaku industri hotel harus dapat beradaptasi dengan pesaing baru yang memanfaatkan teknologi dalam melayani pelanggan.

Teknologi membuat pengalaman pelanggan menjadi faktor penting dalam menciptakan reputasi sebuah hotel karena pelanggan dapat memberikan umpan balik secara online.

Dia mengingatkan, kini cukup banyak platform yang menjadi fasilitator dalam pemasaran yang dapat merangkul seluruh kalangan.
Jutaan pengguna smartphone kini dimanjakan oleh berbagai aplikasi yang memuat beragam pilihan hotel disertai detilnya, seperti Booking.com, Tripadvisor, Traveloka, Tiket.com, Azanahotel.id. Beragam platform e-commerce ini berlomba-lomba menyajikan pemasaran hotel.
Untuk meraih ketiganya, pengetahuan dan taktik bisnis harus dimiliki oleh para pelaku bisnis hotel.

“Dengan adanya pergeseran dari konsumsi non leisure menjadi leisure serta menguatnya perekonomian global dan banyaknya pilihan baru tentang smart budget traveling, akan mendorong naiknya tingkat perjalanan di tahun 2019 hingga tahun-tahun ke depan. Semuanya menjadi semakin mudah dan semakin terjangkau untuk dikunjungi,” kata Dicky.

Hal ini berdampak pada okupansi hotel yang akan semakin tinggi. Pasalnya, kebutuhan berlibur bagi keluarga dan kalangan milenial kini sudah menjadi kebutuhan utama. Apalagi pendapatan dan daya beli mereka juga terus meningkat.

Dicky mengungkapkan, 50 hotel di bawah naungan management Azana okupansi rata-ratanya juga mencapai di atas 80% terutama yang berada di kota-kota kabupaten dan Indonesia timur.

Dia optimistis pasar bisnis perhotelan ke depan semakin luas dan semakin besar ceruknya, mulai dari wisatawan, pebisnis, MICE, ditambah dengan kegiatan-kegiatan sosial dan rapat yang dilaksanakan di hotel semakin banyak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


− five = 1