Seberapa Penting Menulis Review Setelah Menginap di Hotel?

Pernah enggak, sih, kamu mendapat notifikasi untuk memberikan ulasan saat atau setelah menginap di hotel? Kalau pernah, biasanya kamu matikan lalu tinggal begitu saja, atau kamu ‘taati’ dan ikut menuliskannya sesuai dengan pengalaman? Sekilas, review atau ulasan tampaknya memang sepele. Kadang-kadang, kamu terlalu sibuk sehingga hanya menuliskan sekenanya saja. Padahal, review bisa menjadi masukan yang baik bagi pihak pengelola hotel maupun calon tamu yang berencana untuk menginap. Di beberapa kasus, review juga dijadikan sebagai acuan oleh berbagai platform untuk memberikan apresiasi terhadap kinerja hotel.

Traveloka misalnya, dengan mengandalkan ulasan jutaan pengguna, platform penyedia layanan gaya hidup berbasis digital ini menghadirkan sebuah ajang penghargaan bertajuk Traveloka Hotel Awards. Dalam Traveloka Hotel Awards, ada 277 hotel yang berhasil menyabet penghargaan dalam berbagai kategori sesuai dengan region dan kelasnya masing-masing. Seluruh penghargaan tersebut diberikan berdasarkan ulasan pengguna. Dari pengguna, oleh pengguna, dan untuk pengguna. Menurut John Safenson, Vice President of Market Management – Accommodation Traveloka, walau review sudah menjadi hal yang awam di dunia gaya hidup, tetapi tetap saja masih belum menjadi hal yang lumrah untuk dilakukan. Karena konsumen sendiri belum terbiasa memberikan feedback secara digital.”Di Traveloka, mekanisme yang kita lakukan adalah kita meng-encourage pengguna untuk memberi ulasan, baik lewat notifikasi atau email. Fitur terbaru Traveloka saat ini adalah fitur reply,” kata John dalam Diskusi Traveloka Hotel Awards yang diadakan di kantor Traveloka, Rabu (26/2).”Dengan melakukan review langsung saat menginap yang dilengkapi foto, hotel bisa langsung melakukan maintenance atau perbaikan supaya bisa meningkatkan kualitas pelayanan mereka,” lanjutnya menjelaskan.

Lantas, seberapa objektif hasil ulasan dari pengguna? John mengatakan bahwa penilaian yang diberikan konsumen, terutama tamu hotel memang sangat objektif. Karena konsumen memberikan penilaian yang lebih adil berdasarkan pengalaman mereka saat menginap.
Hal ini dapat ia pastikan, karena pihak Traveloka sendiri katanya sudah pernah melakukan riset tersendiri secara internal untuk mengetahui kredibilitas ulasan. Dan yang paling penting, hanya tamu yang pernah menginap saja yang bisa memberikan review terhadap akomodasi yang ditempatinya.
Bukan cuma itu saja, Shirley Lesmana, Head of Marketing – Accommodation Traveloka juga mengatakan bahwa review pengguna juga menjadi salah satu sarana pengambilan keputusan yang dilakukan calon tamu hotel.
“Proses review ini bisa dibilang long term, lah, ya. Baik riset secara internal atau external, user review ini adalah hal yang sangat mempengaruhi keputusan pelanggan. Review hotel itu memberikan nuance supaya membantu pelanggan dalam decision making,” jelasnya ketika ditemui dalam kesempatan yang sama.

Uniknya, meski tak memungkiri bahwa konsumen masih harus diedukasi dan diingatkan untuk membuat review setelah atau saat menginap. Shirley rupanya juga menemukan sebuah tren kecenderungan orang-orang dalam menuliskan review. “Pelanggan yang mendapatkam pengalaman berdasarkan review, biasanya cenderung ikut memberikan review. Ketika konsumen merasa bahwa review berguna ini dalam mengambil keputusan, kecenderungannya dia akan melakukan hal yang sama, ini kaya snowball effect, sih,” pungkasnya.Snowball effect adalahkejadian yang diawali sebuah momentum dan berkaitan satu sama lain. Wah, ternyata sangat berguna, ya. Kalau kamu sendiri, termasuk yang rajin menuliskan review atau enggak?


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


nine × = 18